Batam. Paguyuban Ngada Batam yang berada di bawah naungan Perkumpulan Keluarga Indonesia Timur (PKITT) menggelar acara budaya tahunan bertajuk Reba, Sabtu malam.14 Februari 2026.
“Kegiatan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada para leluhur, khususnya Nenek Moyang (Nenek Boyang), serta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kehidupan dan rezeki yang telah diterima selama satu tahun terakhir.
Ketua Umum Paguyuban Ngada Batam, Martinus Nono, menjelaskan bahwa paguyuban ini secara resmi berdiri sejak tahun 2011. Namun, sebelum itu komunitas Ngada di Batam telah terbentuk dalam kelompok-kelompok kecil
“Secara organisasi, Paguyuban Ngada Batam berdiri sejak 2011. Sebelumnya memang sudah ada, tapi masih bersifat kecil dan belum terorganisasi dengan baik,” ujarnya
Ia menambahkan, Paguyuban Ngada tidak hanya ada di Batam, tetapi juga tersebar di berbagai daerah lain, seperti Tanjungpinang, Tanjung Balai, hingga luar negeri seperti Johor, Malaysia.
Saat ini, Paguyuban Ngada Batam memiliki sekitar 700 anggota yang tersebar dalam lima rayon, meliputi wilayah Batu Aji–Sagulung, Batam Center, Sungai Panas, Seraya, dan Batam Kota.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan pengurus juga menjelaskan makna tema dan latar belakang acara yang ditampilkan dalam bahasa Ngada. Tema tersebut mengandung filosofi kebersamaan, persatuan, dan semangat saling menolong antar sesama.
“Makna dari latar belakang acara ini mengajak kita untuk duduk bersama, bersatu padu, saling tolong-menolong, serta merefleksikan apa yang telah kita perbuat selama ini,” jelas perwakilan panitia.
Acara Reba sendiri merupakan ritual adat tahunan yang hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun. Ritual ini menjadi momen sakral bagi masyarakat Ngada untuk menyampaikan rasa syukur kepada para leluhur dan Sang Pencipta atas perlindungan serta kehidupan yang telah dijalani sepanjang tahun.
“Intinya, Reba adalah acara syukuran. Baik kepada nenek moyang maupun kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkat yang telah diberikan selama satu tahun,” pungkasnya.





